FOTO DISKUSI AKAD PENGHIMPUNAN DANA DAN PEMBIAYAAN

Pada hari minggu tanggal 29 November 2015 KJKS BMT BUMi mengadakan acara “diskusi akad penghimpunan dana dan pembiayaan“. Acara ini bertempat di Masjid Al Muhajirin Jl Pelangi II Blok 53, Pondok Mekarsari Permai, Cimanggis-Depok dan dihadiri oleh pengurus KJKS BMT BUMi dan juga DKM masjid AL-Muhajrin.

1.Pembukaan oleh mc dan juga account officer ibu Agusniar Trisnamiati

IMG_20151129_085441.jpg

  1. Sambutan dari Ketua DKM Masjid Al Muhajirin Bpk Zainil Zein

IMG_20151129_090126.jpg

  1. Narasumber dari acara kali ini adalah Bapak Risman Ch syafri dari Bank Muamalat Departement of National Financing Support 2

IMG_20151129_091001.jpg

IMG_20151129_094151.jpg

 

Iklan

TOKO “MUHAJIRIN” KJKS BMT BUMI

Alamdulillah “TOKO MUHAJIRIN’ KJKS BMT BUMi sekarang memiliki tampilan baru setelah diadakan renovasi. Berikut adalah beberapa fotonya:

mlogo toko

DSC_0244-vertDSC_0387

semoga dengan wajah baru ini “TOKO MUHAJIRIN’ dapat lebih memberikan manfaat kepada para anggotanya dan warga sekitar Masjid Al Muhajirin Amiin.

“KJKS BMT BUMi Akan Menyelenggarakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Ke – 5”

Dalam rangka melaksanakan amanah sesuai dengan ADART Koperasi Jasa Keuangan Syariah. KJKS BMT Bina Usaha Muhajirin (BMT BUMi) akan mengadakan Rapat Anggota Tahunan 2015 Tahun Buku 2014 yang InsyaAllah akan di adakan pada hari Sabtu Tanggal 14 Maret 2015 sebagai ajang silaturahmi antara Pengawas, Pengurus dan Anggota KJKS BMT BUMi di daerah cimanggis-depok. Pada tahun sebelumnya, acara RAT ini dilaksanakan pada bulan April, namun berkat kerjasama dari semua pihak dan adanya software MicSys, pengelolaan data dan laporan keuangan menjadi lebih cepat selesai dan RAT 2015 ini dapat dilaksanakan 1 bulan lebih awal pada bulan Maret. Lokasi Acara RAT Insya Allah akan diselenggarakan di Masjid Al-Muhajirin Jl. Pelangi II Blok 53 Pondok Mekarsari Cimanggis-Depok yang akan dimulai dari pukul 08:00 WIB untuk Bazaar dan registrasi Peserta RAT dimulai pada pukul 08.30 WIB s/d 14.00 WIB. RAT kali ini didukung dengan acara Bazaar yang diisi dengan 16 Stand terdiri dari aneka produk kerajinan anggota, dari hasil pelatihan pembuatan roti dan juga pelatihan menjahit serta produk-produk dari anggota.

Selain itu, KJKS BMT BUMi juga akan mengundang pihak-pihak terkait seperti Kepala Dinas Koperasi, UMKM, dan Pasar Kabupaten Depok, Camat Cimanggis, Lurah Mekarsari, RT dan RW Setempat. Acara RAT dan Bazaar 2015 ini diharapkan dapat dijadikan sebagai tempat dan acara positif khususnya bagi masyarakat Mekarsari cimanggis-Depok.

“Program Perbaikan Toilet, Kerjasama KJKS BMT BUMi & IWASSH”

KJKS BMT Bina Usaha Muhajirin bekerjasama dengan Indonesian Women for Water, Sanitation and Hygiene (IWASSH) telah mengsukseskan program perbaikan toilet salah satu keluarga dhuafa di daerah Kp. Palsigunung Mekarsari Cimanggis – Depok. Program ini merupakan jejaring yang dibentuk untuk menghubungkan Muslimah (para perempuan Muslim). Kebersamaan ini bertujuan menggerakkan masyarakat dalam menjaga air bersih, toilet yang memadai, mendidik dan berbagi bersama masyarakat tentang perawatan air dengan berlandaskan ajaran Islam.

Penyaluran Zakat Maal KJKS BMT BUMi di Palsigunung, Mekarsari Cimanggis-Depok

Ini adalah salah satu program KJKS BMT BUMi dalam bidang zakat maal. Alhamdulillah pada tanggal 23 Desember 2014 Kami telah menyalurkan zakat maal kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya.

PELATIHAN MENJAHIT KJKS BMT BUMi

Pelatihan Menjahit Gelombang ke-2 ini diadakan setiap hari selasa dan rabu. Peserta pelatihan adalah anggota KJKS BMT BUMi dan Jama’ah Mesjid Muhajirin. Pelatihan ini sudah berjalan selama kurang lebih 3 Bulan dan dilatih oleh Ibu Cut Salmiah yang juga merupakan anggota dari KJKS BMT BUMi.

MENIMBANG ZAKAT PRODUKTIF

Untuk optimalisasi pendayagunaan dana zakat, lembaga-lembaga pengelola zakat menginvestasikan dana-dana zakat yang terkumpul dalam proyek-proyek bisnis, baik yang berskala besar maupun kecil, kemudian labanya diberikan kepada fakir miskin. Mereka menyebutnya dengan zakat produktif.
Bagaimana pandangan ahli fikih kontemporer tentang zakat produktif tersebut?
Hukum Zakat Produktif
Para ulama berbeda pendapat di dalam memandang zakat produktif ini. Pendapat Pertama; mengatakan bahwa zakat produktif hukumnya boleh.
Dalil-dalil mereka sebagai berikut:
Pertama: Zakat Produktif mengandung maslahat besar yang akan kembali kepada para fakir dan miskin. Begitu juga kepada para pembayar zakat, karena uang yang mereka bayarkan tetap utuh sedang labanya akan terus mengalir kepada fakir dan miskin. Mereka membayar zakat dengan jumlah tertentu yang terbatas dan dalam waktu terbatas, tetapi walaupun begitu manfaatnya terus mengalir tanpa mengurangi harta tersebut, dengan demikian pahala mereka terus mengalir seiring dengan mengalirnya manfaatnya.
Kedua: mengqiyaskan kepada perintah untuk menginvestasikan harta anak yatim.
Ketiga: Hadits-hadits yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassalam mengumpulkan unta sedekah dan digemukkan. Ini menunjukkan kebolehan menginvestasikan harta zakat.
Pendapat kedua; mengatakan bahwa zakata produktif hukumnya tidak boleh secara mutlak. Ini adalah pendapat Majma’ al-Fiqh al-Islamy Rabithah al-Alam al-Islamy, pada pertemuannya yang ke-15, di Mekkah pada tanggal 11 Rajab 1419/ 31 Oktober 1998.
Dalil-dalil mereka adalah Pertama, Firman Allah:

ayt“Dan tunaikanlah haknya (zakatnya) di hari memetiknya”. (Qs. Al-An’am:141)

Ayat di atas menunjukkan bahwa zakat harus segera dibayarkan ketika panen. Ini menunjukkan larangan mengundurkan pembayaran zakat kepada yang berhak, walaupun dengan alasan diinvestasikan.

Kedua: Perintah membayarkan zakat sifatnya segera tidak boleh diundur. Ini berdasarkan kaidah ushul fiqh yang berbunyi:

ayt1“Pada dasarnya perintah itu menunjukkan pelaksanaannya harus segera”.

Ketiga: Hadits ‘Uqbah bin al-Harits radhiyallahu ‘anhu berkata:

ayt2

“Dari ‘Uqbah berkata, “Aku pernah shalat ‘Ashar di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam di kota Madinah. Setelah salam, tiba-tiba beliau berdiri dengan tergesa-gesa sambil melangkahi leher-leher orang banyak menuju sebagian kamar isteri-isterinya. Orang-orang pun merasa heran dengan ketergesa-gesaan beliau. Setelah itu beliau keluar kembali menemui orang banyak, dan beliau lihat orang-orang merasa heran. Maka beliau pun bersabda:”Aku teringat dengan sebatang emas yang ada pada kami. Aku khawatir itu dapat menggangguku, maka aku perintahkan untuk dibagi-bagikan.” (HR. Bukhori).

Hadits di atas menunjukkan bahwa zakat harus segera dibagikan kepada yang berhak, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam tergesa-gesa pulang ke rumah untuk membagikan harta kepada yang berhak, padahal beliau baru saja selesai shalat. Seandainya pembayaran zakat boleh di undur-undur, tentunya tidak tergesa-gesa seperti itu untuk membagikan zakat.

Keempat: Uang zakat sebenarnya milik delapan golongan yang disebut Allah di dalam al-Qur’an, oleh karena itu jika ingin diinvestasikan, maka dikembalikan kepada mereka, bukan kepada lembaga-lembaga zakat.

Kelima: Di dalam investasi uang zakat terdapat ketidakjelasan pada hasilnya, bisa untung atau rugi. Jika mendapat kerugian, maka akan merugikan para fakir miskin dan golongan lain yang berhak mendapatkan zakat, sehingga hak mereka menjadi hilang.

Pendapat Ketiga: Zakat Produktif dibolehkan setelah kebutuhan pokok para fakir miskin dan golongan lain terpenuhi terlebih dahulu, kemudian sisanya bisa diinvestasikan di dalam proyek-proyek yang menguntungkan, dengan hasil yang bisa segera bisa dinikmati golongan yang berhak mendapatkan zakat.

Pendapat ini menggabungkan dua pendapat di atas. Satu sisi tidak merugikan fakir miskin karena mereka tetap mendapatkan hak-hak mereka sesegera mungkin untuk menutupi kebutuhan pokok mereka. Di sisi lain, harta tersebut diinvestasikan pada proyek-proyek yang menguntungkan, sehingga manfaatnya kembali kepada mereka juga.

Pada keputusan Majma al-Fiqh al-Islamy OKI, pada pertemuannya yang ketiga di Amman Kerajaan Jordan, yang diselenggarakannyan pada tanggal 8-13 shofar 1407 H / 11 -16 Oktober 1986 M, No 15 (3/3) menyebutkan :

ayt3“Secara prinsip dibolehkan menginvestasikan uang zakat di dalam proyek-proyek investasi yang berakhir kepada kepemilikan pada orang-orang yang berhak mendapatkan zakat, atau proyek-proyek ini di bawah lembaga resmi yang bertanggungjawab terhadap pengumpulan zakat dan pembagiannya. Ini diisyaratkan harus terpenuhi terlebih dahulu kebutuhan yang mendesak dan segera bagi golongan yang berhak mendapatkan zakat, begitu juga harus ada jaminan yang cukup agar proyek-proyek tersebut tidak mendapatkan kerugian.”

Keputusan tersebut dikuatkan pada an-Nadwah ats-Tsalitsah li Qadhaya az-Zakat al-Mu’ashirah di Kuwait pada tahun 1992 M.

Kesimpulan

Setelah menyebutkan perbedaan ulama di atas tentang hokum zakat profesi berikut dalil-dalil masing-masing dari setiap kelompok, maka pendapat yang dipandang lebih tepat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman adalah pendapat ketiga yang menggabungkan antara dua pendapat sebelumnya, khususnya di masa sekarang yang sering kita dapatkan pembagian zakat yang tidak efektif, boros dan tidak tepat sasaran serta tidak bisa mencapai tujuan zakat itu sendiri yaitu mengentas kemiskinan.

Dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam telah memberikan contoh sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik yang diriwayatkan Tirmidzi bahwa ketika ada seorang Anshor yang meminta-minta beliau tidak langsung memberikan kepadanya uang tunai, tetapi mengajarkan kepadanya bagaimana berusaha dan bekerja, sehingga dalam waktu singkat orang tersebut menjadi mandiri dan tidak meminta-minta lagi.

Dengan adanya zakat produktif ini diharapkan lebih bisa membantu para fakir miskin sehingga mereka akan mendapatkan bantuan dari zakat produktif secara terus-menerus, sesuatu yang susah diterapkan pada pembagian zakat secara konvensional. Wallahu A’lam. (Dikutip dari Dr. Ahmad Zain An Najah, MA dalam Majalah Man Tazakka Hal : 46, Penerbit: Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia).